Ringkasan Berita:
- Pemandangan menarik terjadi dari kepulangan jemaah haji Indonesia asal Sulawesi Selatan.
- Sejumlah jemaah, khususnya perempuan mengenakan pakaian bling-bling mencolok.
- Busana itu sengaja disiapkan dengan biaya yang mencapai jutaan rupiah.
TRIBUNNEWS.COM – Fase pemulangan jemaah haji Indonesia 2026 berlangsung pada 1 Juni hingga 1 Juli 2026.
Pemulangan gelombang pertama via Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah telah berakhir pada 16 Juni 2026.
Selanjutnya, pemulangan jemaaah haji gelombang dua via Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz, Madinah, dimulai sejak 16 Juni 2026.
Ada yang menarik dari kepulangan jemaah haji Indonesia asal Sulawesi Selatan.
Sejumlah jemaah, khususnya perempuan mengenakan pakaian bling-bling mencolok.
Busana bling-bling yang dikenakan jemaah haji, khususnya perempuan tersebut, diketahui sudah menjadi tradisi masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel).
Martati Konsi, jemaah haji kloter 22 Debarkasi Makassar asal Kabupaten Bone, juga mengenakan busana bling-bling setibanya di Tanah Air, Rabu (17/6/2026).
Melansir Tribun-Timur.com, Martati mengenakan busana berkilau warna maroon.
Busana itu dipenuhi payet, manik-manik, serta bordir berkilau yang membentuk motif geometris.
Saat terkena cahaya, hiasan itu membantulkan kilau yang mencolok, sehingga nampak bling-bling.
Bagian bahu dibuat lebih tegas dan lebar menyerupai siluet busana adat modern, memberikan kesan megah dan anggun.
Untuk melengkapi penampilannya, Martati mengenakan hijab dengan warna senada.
Hijab itu juga dihiasi detail berkilau, sehingga membuat penampilannya makin paripurna.
Tak lupa Martati mengenakan aksesoris berupa perhiasan yang membuat penampilannya lebih mencolok.
Ia melingkarkan kalung di lehernya, gelang di tangan, anting, serta cincin untuk menghiasi tangannya.
JEMAAH HAJI -Jamaah haji Kloter 22 Debarkasi Makassar asal Bone, Hj Martati Konsi, saat ditemui di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang Makassar, Rabu (17/6/2026).
Martati mengaku, mengganti pakaiannya saat berada di pesawat.
Ia ingin tampil berbeda setelah menempuh perjalanan panjang dari Tanah Suci.
“Mau tampil glowing jadi ganti pakaian di pesawat,” katanya kepada Tribun-Timur.com.
Martati mengaku merogoh kocek sekira Rp5 juta untuk busana yang dikenakannya.
“Saya belikan lima juta,” ungkapnya sambil tersenyum.
Pakaian bling-bling juga dikenakan jemaah haji Indonesia asal Kabupaten Bone lainnya, Sitti Rosmiati bersama rombongan.
Sitti merupakan jemaah kloter 3 asal Kabupaten Bone.
Ia berangkat ke Tanah bersama dua kerabatnya, Andriani dan Hamsiah Baila.
Mereka juga mengenakan busana bling-bling setibanya di Tanah Air.
Busana itu sengaja disiapkan sebagai ciri khas rombongan keluarga yang menunaikan ibadah haji bersama.
“Disiapkan pakaiannya empat hari sebelum berangkat ke tanah suci,” kata Sitti kepada Tribun-Timur.com, Rabu (3/6/2026).
Sitti mengungkapkan, busana itu dirancang dan dijahit secara khusus agar memiliki identitas tersendiri dibanding jemaah lainnya.
“Ini disiapkan sendiri, kita jahit. Kita belinya di Sengkang.”
“Kita mau ada ciri khas tersendiri. Karena yang lain kan mungkin ada pakai baju begitu, tapi satu-satu. Kita bertiga sepupuan,” ujarnya.
Untuk mewujudkan busana seragam bernuansa bling-bling itu, Sitti harus mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah.
“Biaya bajunya jutaan termasuk mispanya semua,” ungkapnya.
JEMAAH HAJI – Jamaah haji Kloter 3 Debarkasi Makassar, Sitti Rosmiati (tengah) bersama dua keluarganya ketika berda di Aula Arafah, Asrama Haji Sudiang Makassar, Rabu (3/5/2026).
PPIH: Budaya Orang Bugis
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Makassar, merespons fenomena jemaah haji yang pulang mengenakan busana bling-bling.
Ketua PPIH Debarkasi Makassar, Ikbal Ismail mengatakan, pihaknya tak melarang jemaah mengenakan pakaian bling-bling lantaran itu merupakan tradisi masyarakat Bugis-Makassar.
“Pada prinsipnya kami tidak melarang karena itu adalah budaya orang Bugis-Makassar,” katanya kepada Tribun-Timur.com di Asrama Haji Sudiang, Kamis (4/6/2026).
Namun, ia meminta agar busana yang dikenakan tetap menutup aurat.
“Hanya sudah berulang kali kami sampaikan agar jamaah, terutama ibu-ibu, apalagi baru pulang dari Tanah Suci, menggunakan busana Bugis-Makassar yang tetap menutup aurat, terutama bagian leher,” ujarnya.
Ia mengaku bangga karena jemaah masih mempertahankan identitas budaya daerah melalui busana yang dikenakan.
Namun, kebanggan terhadap budaya lokal itu diharapkan dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai keagamaan yang menjadi bagian dari perjalanan spiritual jemaah haji.
“Kami juga bangga budaya kami tetap digunakan oleh ibu-ibu yang baru pulang dari Tanah Suci. Tapi kami harapkan tetap menutup aurat, terutama lehernya ibu-ibu,” jelasnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Hj Martati Pakai Gaun Bling-Bling Dibeli Dengan Harga Rp5 Juta
SUMBER: Cerita jemaah haji perempuan asal Bone, pulang pakai baju bling-bling, habiskan biaya jutaan rupiah
